Rabu, 11 Februari 2026

Doa Tidak Sama Dengan Pikiran

Tulisan ini sebagian hasil generative AI 

Dalam Islam, pikiran bukan doa.
Pikiran belum dicatat.
Yang dicatat adalah niat yang disadari, ucapan, dan perbuatan.
Maka menjaga pikiran itu penting, bukan karena ia doa,
tapi karena ia pintu ke niat.

“Pikiran = doa” (tidak tepat secara syariat)

Dalam Islam, doa itu perbuatan sadar:
  • Dimohonkan
  • Diucapkan (lisan)
  • Atau diniatkan secara jelas sebagai ibadah

QS. Ghafir 40:60
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan…”

Doa bukan lintasan pikiran.
Ia adalah permohonan yang disengaja.
Jadi kalimat “pikiranmu adalah doa” tidak memiliki dasar Al-Qur’an maupun hadits.

Pembedaan yang BENAR: pikiran - niat - ucapan - perbuatan

a) Pikiran lintas (khathir)

  • Datang dan pergi
  • Belum dicatat
  • Tidak berdosa dan tidak berpahala
QS. Qaf 50:16
“Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya…”

Diketahui Allah, tapi bukan berarti dicatat sebagai dosa.
Hadits shahih:
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas apa yang terlintas di hati mereka, selama belum diucapkan atau dilakukan.”
(HR. Bukhari & Muslim)

b) Niat

Niat bukan sekadar pikiran, tapi kehendak sadar.
Hadits paling fundamental:
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Niat baik:
Bisa berpahala meski belum terlaksana

Niat buruk:
Belum berdosa selama belum dilakukan

c) Ucapan

Ucapan sudah masuk wilayah catatan.
QS. Qaf 50:18
“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang siap mencatat.”

d) Perbuatan

Ini wilayah paling tegas.

QS. Az-Zalzalah 99:7–8

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah… dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah…”

Perbuatan = konsekuensi nyata. 

Jadi, bagaimana kalimat itu seharusnya dipahami?

QS. Asy-Syams 91:8–10
“Allah mengilhamkan kepada jiwa jalan kefasikan dan ketakwaannya…”
Pikiran adalah awal arah, bukan doa itu sendiri.

Dalam Yudaisme: pikiran ≠ doa (secara literal)

Dalam Yahudi klasik (Tanakh/Taurat), doa (תפילה / tefillah) adalah:
  • Tindakan sadar
  • Diucapkan atau ditata secara formal
  • Menghadap Tuhan dengan kerendahan hati
Doa BUKAN sekadar lintasan pikiran.
Ulangan/Devarim 6:5
“Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap kekuatanmu.”
“Hati” (lev) di sini bukan pikiran acak, tapi pusat kehendak dan kesadaran moral.

Pikiran dalam Yahudi: ada kategori khusus

Yudaisme sangat teliti membedakan kondisi batin.

a) Machshavah (pikiran)

  • Pikiran biasa
  • Lintasan mental
  • Tidak otomatis berdosa
Sama seperti dalam Islam: belum dicatat sebagai pelanggaran.

b) Hirhur aveirah (pikiran menuju dosa)

Dalam Talmud, dikenal konsep:
Hirhur aveirah kashah me’aveirah
“Pikiran menuju dosa bisa lebih berbahaya daripada dosanya sendiri.”
Ini bukan berarti pikiran dihukum,
melainkan:
  • pikiran yang dipelihara
  • dibayangkan
  • disengaja akan mengotori jiwa.
Belum dihukum, tapi merusak batin.
Ini mirip konsep niat, bukan lintasan acak.

c) Kavanah (כוונה) – niat sadar

Ini titik krusial.
Dalam Mishnah & Talmud:
  • Doa tanpa kavanah = kosong
  • Amal tanpa kavanah = cacat
Contoh (Mishnah Berakhot 2:1, makna):
“Jika seseorang membaca doa tanpa niat, ia belum benar-benar berdoa.”
Jadi:
Niat sadar lebih penting daripada kata
Tapi niat ≠ pikiran acak

Ucapan & tindakan: yang benar-benar “mengikat”

Bilangan/Bamidbar 30:3
“Apa yang diucapkan seseorang dengan mulutnya, jangan ia langgar.”
Ucapan sudah mengikat secara hukum.

Pengkhotbah/Kohelet 12:14
“Karena setiap perbuatan akan dibawa Allah ke pengadilan.”
Perbuatan adalah wilayah pertanggungjawaban utama.

Jadi bagaimana posisi kalimat “pikiranmu adalah doa” menurut Yahudi?

Secara literal: SALAH
Tidak ada dalam:
  • Taurat
  • Mishnah
  • Talmud
Tidak dikenal konsep:
“Machshavah = tefillah”

Secara moral-populer (baru & longgar):

Kadang dipakai secara metaforis, maksudnya:
  • Pikiran membentuk arah hidup
  • Pikiran memengaruhi niat
  • Maka jagalah pikiran
Ini etika, bukan hukum ibadah.
Dalam Islam maupun Yahudi, pikiran bukan doa.
Pikiran adalah arah, bukan permohonan.
Doa menuntut kesadaran, niat, dan keterarahan kepada Tuhan.
Maka jagalah pikiran, bukan karena ia doa,
tapi karena ia pintu menuju niat dan perbuatan.

Selasa, 10 Februari 2026

Pikiran Block Saat Mengerjakan Proyek C++: Bahaya yang Sering Diabaikan Pemula

Tulisan ini sebagian hasil generative AI

Dalam perjalanan belajar C++, ada satu momen yang hampir pasti dialami semua pemula:
tiba-tiba diberi proyek, meski kecil, lalu muncul kalimat jujur namun menakutkan:

“Waduh… aku nggak punya gambaran harus nyusun kodenya seperti apa.”

Ini bukan tanda bodoh.
Ini tanda otak sedang memasuki zona block.
Dan di C++, zona ini berbahaya jika tidak dipahami dengan benar.

Ketika Pemula Diberi Proyek: Masalahnya Bukan Kode, Tapi Gambaran Mental

Masalah utama pemula C++ bukan tidak tahu sintaks.
Biasanya pemula sudah tahu:
  • if, for, while
  • int, float
  • fungsi
  • Bahkan sedikit class

Namun saat proyek datang, yang hilang adalah:

gambaran mental tentang alur program

C++ tidak memberi “jalan cerita” otomatis.

Ia tidak berkata:
  • Mulai dari sini
  • Data mengalir ke sana
  • Objek hidup sampai kapan

Semua itu harus kamu susun di kepala terlebih dahulu.
Akibatnya:
  • Pemula menatap file kosong
  • Bingung mau mulai dari mana
  • Takut salah dari baris pertama
Inilah awal pikiran block.

Pikiran Block adalah Zona Bahaya di C++

Di bahasa yang lebih “aman”, pikiran block sering hanya berakhir dengan:
  • Kode berantakan
  • Performa buruk
  • Tapi program tetap jalan

Di C++, pikiran block bisa berujung pada:
  • Desain memori salah
  • Lifetime objek kacau
  • Pointer tidak jelas kepemilikannya
  • Bug yang tidak langsung muncul

Pemula yang block biasanya:
  • Lompat-lompat nulis kode
  • Copy-paste tanpa paham alur
  • “Asal jadi dulu”

Padahal di C++:
asal jadi = utang logika + utang memori

Dan utang ini dibayar mahal di akhir.

Kesalahan Umum: Mengira AI Bisa Mengganti Pola Pikir

Teknologi AI sering dianggap solusi:
“Kalau bingung, minta AI saja.”

Masalahnya bukan AI-nya.
Masalahnya adalah cara menggunakan AI.

Jika AI:
  • Langsung memberi struktur final
  • Menyuapi kelas, fungsi, dan algoritma
  • Menyelesaikan sebelum kamu paham masalah

Maka yang terjadi:
  • Kode ada
  • Program jalan
  • Pola pikir tidak tumbuh
Ini berbahaya di C++.

Karena C++ bukan bahasa meniru, tapi bahasa bertanggung jawab.

Istilah vibe coding bisa membantu eksplorasi, tapi:
vibe tanpa pemahaman = ilusi kemajuan

Pemula harus tetap melek terhadap susunan bahasa:
  • Mana data
  • Mana pemilik memori
  • Mana alur kontrol
  • Mana titik awal dan akhir program

Dinamika Masalah Lain yang Jarang Dibicarakan

Takut Salah Lebih Besar dari Keinginan Mencoba

C++ terkenal “keras”, sehingga pemula:
  • Terlalu hati-hati
  • Takut crash
  • Takut salah desain
Akibatnya: tidak mulai sama sekali.

Padahal:
desain jelek yang dipahami lebih berharga daripada desain “bagus” yang ditiru. 

Bingung Memisahkan “Masalah” dan “Implementasi” 

Pemula sering langsung mikir:
  • Class apa?
  • Fungsi apa?

Padahal seharusnya:
  • Masalah apa yang mau diselesaikan?
  • Data apa yang terlibat?
  • Siapa yang mengubah siapa?

C++ menuntut pemodelan masalah dulu, baru kode.

Overthinking Struktur Sejak Awal

Karena sering dengar:
  • “C++ harus rapi”
  • “C++ harus efisien”

Pemula terjebak:
  • mikirin arsitektur besar
  • padahal belum tahu alurnya

Di tahap awal:
kode yang hidup lebih penting daripada kode yang sempurna

Jalan Keluar dari Pikiran Block (Khusus C++)

Beberapa prinsip yang benar-benar menolong pemula:
  • Mulai dari alur, bukan file
    • Tulis di kertas: input -> proses -> output
  • Buat versi jelek yang kamu pahami
    • Satu main.cpp
    • Satu alur lurus
    • Tanpa OOP dulu
  • Tanya “siapa punya data ini?”
    • Stack atau heap?
    • Siapa yang menghapus?
  • Gunakan AI sebagai cermin, bukan otak
    • Minta penjelasan
    • Minta alternatif
    • Bukan solusi final
  • Sadari bahwa bingung itu fase normal
    • Bukan kegagalan
    • Tapi tanda otak sedang belajar berpikir sistem

Penutup

Pikiran block dalam proyek C++ bukan musuh, ia adalah alarm.

Alarm bahwa:
  • Kamu tidak lagi sekadar menulis kode
  • Kamu sedang belajar menyusun sistem di kepala

C++ memang tidak ramah.
Tapi justru karena itu, ia mengajarkan sesuatu yang jarang diajarkan bahasa lain:
Berpikir sebelum menulis,
dan bertanggung jawab atas apa yang ditulis.

Jika pemula bisa melewati fase ini dengan sadar,
C++ bukan lagi bahasa yang ditakuti, melainkan bahasa yang membentuk cara berpikir.

Sabtu, 07 Februari 2026

Kalau dengan AI lawan timpa string maka?

Tulisan ini sebagian hasil generative AI
“Kalau AI bisa generate kode, replace string, atau ‘menang cepat’, apa gunanya belajar C++ sedalam ini?”

AI:

  • bisa bantu menulis

  • bisa bantu menjelaskan

  • bisa bantu eksperimen

Tapi AI tidak menanggung konsekuensi runtime.

AI tidak:

  • men-debug UB yang hanya muncul di production

  • memutuskan layout memori kernel

  • bertanggung jawab saat sistem crash

Di C++ (dan apalagi OS):

Pemahaman manusia tetap penentu akhir

AI itu alat, bukan penanggung jawab.


AI, string replacement, dan realita C++

AI bisa membuat ini:
char buf[8];
strcpy(buf, "this is too long");

Tapi AI tidak merasakan akibatnya:

  • buffer overflow

  • stack corruption

  • crash acak

Manusia yang paham C++ langsung sadar:

// SALAH secara konseptual


Di C++, pemahaman mengalahkan generasi kode.

Mengenal Tichel

Catatan: konten teks ini generatif hasil genAI, bisa jadi salah maka silahkan kunjungi sumber (referensi) dibawah

Orang-orang menggunakan tichel, sebuah kata dalam bahasa Yiddish untuk jilbab, karena berbagai alasan yang bersifat tradisional maupun modern. Alasan utama berasal dari ketaatan beragama dalam Yudaisme, tetapi alasan lainnya termasuk mode, kenyamanan, dan ekspresi diri.

Alasan Keagamaan & Spiritual (Yudaisme)

Alasan tradisional utama untuk mengenakan tichel berakar pada hukum kesopanan Yahudi (tzniut).

  • Kesopanan: Kebiasaan menutupi rambut dipandang sebagai tindakan kesopanan, menjaga bagian pribadi penampilan seorang wanita hanya untuk dilihat oleh suaminya secara pribadi.
  • Simbol Status Perkawinan: Bagi banyak wanita Yahudi Ortodoks, mengenakan penutup kepala setelah menikah berfungsi sebagai simbol publik dari komitmen dan status perkawinan mereka.
  • Koneksi Spiritual: Banyak wanita yang menutupi rambut mereka, baik yang sudah menikah maupun belum, merasakan hubungan yang lebih dalam dengan warisan Yahudi, komunitas, dan Tuhan.
  • Ketaatan dan Kesalehan: Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai tindakan kesalehan yang penting dan ekspresi iman, meskipun tingkat kewajibannya ditafsirkan secara berbeda di berbagai denominasi Yahudi.

Alasan Menggunakan Tichel Adalah Karena Anda Harus Menikah?

Ya, alasan utama dan tradisional untuk mengenakan tichel (istilah Yiddish untuk jilbab) adalah karena seorang wanita Yahudi sudah menikah. Sesuai dengan hukum Yahudi (Halacha) dan kebiasaan kesopanan (tzniut), wanita Yahudi Ortodoks yang sudah menikah menutupi rambut mereka di depan umum atau di hadapan pria selain suami atau keluarga dekat mereka.

Berikut detail penting mengenai hubungan antara pernikahan dan tichel:
  • Penanda Status Perkawinan: Penutup kepala berfungsi sebagai tanda yang terlihat dari status perkawinan seorang wanita, menunjukkan bahwa dia sudah "berpasangan" atau tidak tersedia untuk pria lain.
  • Tanda Kesakralan: Setelah menikah, rambut seorang wanita Yahudi dianggap sebagai area "suci" atau intim dan pribadi yang hanya diperuntukkan bagi suaminya.
  • Tidak Diwajibkan Sebelum Menikah: Secara umum, kewajiban menutup rambut tidak berlaku untuk wanita lajang; kewajiban ini dimulai setelah upacara pernikahan.
  • Beragam Metode: Tichel hanyalah salah satu metode untuk menutupi rambut. Pilihan lain termasuk sheitel (wig), snood (kantong kain), atau topi.
  • Ekspresi Budaya: Di luar persyaratan hukum yang ketat, banyak wanita memilih untuk mengenakan tichel sebagai ekspresi pribadi dari pengabdian spiritual, keterkaitan dengan warisan budaya, atau untuk merasa "terbingkai" dan anggun.
Meskipun tradisi menutup rambut sangat dipatuhi dalam komunitas Ortodoks, tingkat penutupannya bervariasi, mulai dari penutupan penuh hingga sebagian, tergantung pada standar komunitas tersebut.

Alasan Praktis & Pribadi

Selain karena kewajiban agama, wanita memilih untuk mengenakan tichel karena alasan kehidupan sehari-hari.
  • Mode & Gaya: Tichel adalah aksesori fesyen serbaguna, tersedia dalam berbagai warna, kain, dan pola, memungkinkan ekspresi diri yang kreatif dan artistik melalui berbagai gaya pengikatan, seperti turban atau selendang elegan.
  • Kenyamanan & Fungsionalitas: Mereka menawarkan alternatif yang nyaman dan ringan dibandingkan wig (sheitel) dan dapat menjadi solusi praktis untuk menjaga rambut agar tidak menutupi wajah selama aktivitas seperti berolahraga atau membentuk tubuh.
  • Perawatan Rambut: Tichel digunakan untuk mengatasi kerontokan rambut akibat kondisi seperti alopecia atau perawatan medis, atau sekadar sebagai solusi mudah untuk "hari-hari rambut yang buruk".
  • Pemberdayaan Pribadi: Bagi sebagian orang, memilih untuk menutupi rambut mereka adalah tindakan mengambil kendali atas tubuh dan penampilan mereka sendiri, sebuah bentuk pengembalian gaya berpakaian sopan ala feminis yang menantang norma-norma budaya.

Daya Tarik Universal

Meskipun berakar pada tradisi Yahudi, tichel dapat dikenakan oleh siapa saja, tanpa memandang keyakinan, sebagai pilihan pribadi untuk gaya, kenyamanan, atau sebagai penghubung dengan "persaudaraan" wanita yang menikmati praktik penutup kepala.

Sumber:

Apa Ciri Khas Programmer C++ — Pemahaman Mendalam tentang Manajemen Memori di C++

Tulisan ini sebagian hasil generative AI

Bagi pemula, belajar manajemen memori di C++ itu seperti mulai melihat isi komputer dari balik layar. Di sini, kita tidak hanya menulis logika, tapi juga sadar bahwa setiap data benar-benar menempati ruang di memori. Pointer dan reference membantu kita memahami di mana data berada, bukan hanya apa nilainya.

Secara perasaan, C++ terasa menantang sekaligus jujur. Tidak ada Garbage Collector yang diam-diam membersihkan sisa memori seperti di Java atau Python. Jika kita membuat sesuatu, kita juga bertanggung jawab untuk merapikannya. Awalnya mungkin tegang, tapi lama-lama tumbuh rasa tanggung jawab dan kontrol.

Dari sisi perabaan, bekerja dengan new, delete, atau bahkan malloc seperti memegang langsung alat kerja. Salah sentuh bisa berbahaya, tapi sentuhan yang tepat terasa presisi. Kita belajar bahwa setiap alokasi punya konsekuensi, dan setiap kesalahan bisa terasa nyata.

Dan jika didengar, C++ seperti tidak banyak bicara tapi kalau ada yang salah, ia “berisik” lewat error, crash, atau bug. Justru dari situ pemula belajar mendengarkan: membaca pesan kesalahan, memahami alur memori, dan pelan-pelan membangun kebiasaan menulis kode yang rapi dan efisien.

Pada akhirnya, manajemen memori di C++ bukan sekadar soal performa, tapi soal kedewasaan berpikir sebagai programmer (memahami apa yang kita buat, ke mana ia pergi, dan kapan ia harus dilepaskan).


Memahami Yidlang:

1. Fokus pada Kontrol dan Kepedulian Terhadap Detail

Yidlang dirancang supaya programmer tidak mengandalkan otomatisasi yang berlebihan dan benar-benar memikirkan setiap aksi yang terjadi dalam program, mirip dengan cara kita harus menangani memori secara manual di C++ (programmer harus mengontrol secara eksplisit apa yang terjadi di memori/lingkungan eksekusi, tanpa Garbage Collector).

2. Pemrograman Low-Level = Lebih Dekat dengan Mesin

Karena Yidlang berada di spektrum bahasa yang lebih dekat pada mesin (conceptually), proyek ini juga menantang programmer untuk memahami konsekuensi teknis di balik setiap keputusan kode sebuah filosofi yang sangat berkaitan dengan pengelolaan memori manual seperti pointer, alokasi, dan dealokasi di C++.

3. C++ Sebagai Dasar Implementasi

Yidlang sendiri ditulis dan membutuhkan knowledge C++ (C++17/C++20). Itu berarti konsep-konsep seperti manajemen memori, pointer, dan kontrol sumber daya menjadi relevan secara langsung dalam pengembangan Yidlang, bukan sekadar teori abstrak.

Menekankan kontrol eksplisit atas apa yang terjadi ‘di balik layar’, bukan sekadar menulis kode tanpa memikirkan efeknya.

Bahwa bahasa yang tidak mengandalkan Garbage Collector (seperti C++) juga memaksa programmer agar memahami konsekuensi penggunaan memori, ini langsung berkaitan dengan tujuan Yidlang: memaksa kehati-hatian berpikir tentang setiap aksi yang terjadi dalam program. 

Jumat, 06 Februari 2026

Inilah Aku Seorang Muslim Menggambar Orang Yahudi Yang Baik Hati

 

Tidak perlu validasi keinginan kuat (biasanya zaman sekarang berlebihan) untuk mendapatkan pengakuan atau persetujuan. Ikatan gambarku dengan subjek yang aku gambar adalah energi yang aku lepaskan untuk menggambar subjek yang tidak terkenal.

Alasan Saya Menggambar Orang Yahudi

Mengurangi rasa stress, 
Selain itu
Kamu tidak perlu tahu alasan banyak. 
Kalimatku yang "mengurangi rasa stress" itu sudah cukup.

Kenapa Nazwa Stress

Stress tidak sama gila
Kalau kamu anggap sama itu membuatmu bertolak belakang ilmu pengetahuan kenyataan.

Orang Yang Kamu Gambar Siapa?

Bukan siapa-siapa, aku menggambar sesuai imajinasiku sendiri, Saya tidak menyudutkan menggambar si fulan a, di fulan b dan c. Kecuali Saya gambar secara eksplisit seperti seorang Pria Yahudi penyanyi ajaib (sesuai permintaan identitas ditutup untuk menghormati si pria Yahudi). Saya senang dapat menggambar untuk menyenangkan hati seseorang apalagi mengurangi rasa stress Saya sendiri.

Kamu Menggambar untuk Tujuan Apa?

Atas rahmat Allah, Saya menggambar bukan untuk membuat bahan ejekan, merendahkan, atau memposisikan gambar Saya dengan konflik timur tengah. Saya menggambar dengan damai dan ada orang yang menyukainya, terima kasih Ya Allah.

Saya menggambar sampai saat ini adalah bukan ancaman Saya, Saya menggambar karena Saya mengekspresikan diri dan melihat topik lebih dalam tentang judaism.

Bulan terakhir PKL

Menjelang puasa hari ini, Saya dengan senang hati menyambutmu hari:
"Kemenangan"

Bulan kemengan kita harus rayakan, kalau tidak, kapan lagi kita menang?

Bulan kemenangan sudah datang menunggu kita, kita harusnya bersiap untuk memulai langkah hari-hari puasa.

Kita dalam puasa Ramadhan ini:
Yang paling benar-benar dikerjar deadline: hutang puasa harus dibayar puasa hutang ramadhan.

Tujuan agar Ramadhan menjadi momen "servis diri" untuk menjadi manusia yang lebih bertaqwa. 

Perkara ramadhan

Puasa ibadah wajib (fardu ain) bagi Muslim yang mukalaf (baligh, berakal, mampu).

Puasa dilaksanakan dengan menahan diri dari makan, minum, jimak, dan hal-hal pembatal puasa lainnya sejak fajar hingga maghrib.

  1. Rukun puasa: Niat (setiap malam) dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
  2. Membatalkan puasa: Keluar air mani dengan sengaja, haid atau nifas bagi wanita, gila atau hilang akal, murtad, dll
  3. Menghapus pahala: berbohong, ghibah, namimah, sumpah palsu.

Catatan ini adalah bulan terakhir PKL Saya (06/02/26), puasa dimulai pada tanggal 14 Februari 2026.

Postingan lainnya

Doa Tidak Sama Dengan Pikiran

Tulisan ini sebagian hasil generative AI  Dalam Islam, pikiran bukan doa. Pikiran belum dicatat. Yang dicatat adalah niat yang disadari, uca...