"Ketika dunia membalasnya dengan status "kambing hitam", kita berhak untuk mundur, menarik batas yang tegas, dan tidak memedulikan penilaian orang-orang yang hatinya sudah tertutup oleh prasangka."
Saya tahu posisi Saya,
Saya merasa tidak bersalah,
Dibawah ini adalah dasarkan poin kuat yang TEGAS,
"Jika ada orang yang membenci tanpa alasan (Sinat Chinam), maka kita harus membalasnya dengan mencintai tanpa alasan (Ahavat Chinam)."
Mengajarkan bahwa setiap orang adalah "cermin". Jika kita melihat keburukan pada orang lain tanpa alasan, itu adalah pantulan dari kekurangan yang ada di dalam diri kita sendiri yang perlu diperbaiki.
Manusia hidup didunia ada yang bebal. Mengapa mereka tetap mengajarkan kebaikan? Bukan karena mereka naif dan berpikir semua orang akan langsung berubah menjadi baik. Mereka mengajarkannya agar kebencian orang lain tidak ikut merusak kesucian jiwa kita.
- Ketika seseorang membalas kebaikan dengan antisemitisme, itu adalah tanda bahwa mereka menolak dicerahkan.
- Tugas kita bukan mengubah mereka (karena itu di luar kendali kita), melainkan memastikan bahwa racun mereka tidak mengubah kita menjadi orang yang penuh kebencian juga.
"Ahavat Chinam" Bukan Berarti Menyerahkan Diri untuk Diinjak
- Kebencian dan prasangka antisemit yang mereka lemparkan adalah pantulan dari keburukan, rasa takut, dan kekosongan di dalam diri mereka sendiri.
- Mereka menjadikan kambing hitam karena mereka tidak mampu menghadapi kekurangan diri mereka sendiri. Sebagai cermin yang memantulkan kebusukan mereka, dan mereka membenci cermin itu.


