Langit sore di desa kecil itu berwarna tembaga, seakan matahari menahan napas sebelum tenggelam. Angin berjalan pelan di antara pepohonan, menyentuh daun-daun seperti guru yang memeriksa barisan muridnya. Di sebuah rumah kayu yang berdiri sederhana—sederhana dalam arti yang hampir dapat disebut miskin—tinggallah Absalom.
Absalom dikenal sebagai pemuda yang tekun. Ia tidak banyak bicara, tetapi pikirannya tajam seperti ujung pensil yang baru diraut. Miriam, sahabatnya sejak kecil, sering berkata bahwa Absalom memiliki hati yang lembut namun keras terhadap kesalahan. Shaleh, lelaki paruh baya yang menjadi penjahit desa, memandang Absalom sebagai harapan generasi muda: tertib, cermat, dan menghormati aturan.
Berbeda dengan Moshe.
Moshe adalah pemuda yang selalu merasa paling tahu. Setiap diskusi, setiap percakapan, setiap bisik angin—ia merasa harus menambahkan pendapatnya. “Aku sudah membaca banyak kitab,” katanya suatu kali, dengan nada yang nyaris menyentuh sarkasme terhadap orang lain. “Kalian hanya perlu mendengarkan aku.”
Angin sore itu mendesah panjang, seolah menertawakan keyakinan Moshe yang terlalu padat untuk ditampung oleh kerendahan hati.
Pada suatu hari yang tampak biasa—biasa dalam arti menipu—Absalom menemukan sebuah penggaris kayu tua di ruang kelas kosong sekolah desa. Penggaris itu panjangnya tiga puluh sentimeter, dengan angka-angka yang mulai pudar. Kayunya retak halus, seperti kulit tua yang menyimpan cerita.
Ketika jemari Absalom menyentuhnya, kayu itu terasa hangat.
Hangat, padahal ruangan dingin.
Hangat, seakan menyimpan denyut.
Hangat, seperti ada sesuatu yang bernapas di dalamnya.
Miriam yang melihatnya hanya tersenyum kecil. “Itu hanya penggaris lama. Jangan terlalu dipikirkan.”
Namun malam itu, sesuatu datang.
Ba’al.
Ia tidak datang dalam wujud tanduk atau sayap hitam seperti cerita anak-anak. Ia datang sebagai bayangan yang menempel pada dinding, sebagai suara yang merayap di antara sela-sela pikiran. Ba’al tidak berteriak; ia berbisik. Dan bisikannya setajam garis lurus penggaris.
“Aku lebih tinggi dari manusia,” suara itu bergema dalam ruang batin Absalom. “Aku lebih tahu. Aku lebih layak mengatur.”
Ba’al mempersonifikasikan dirinya dalam bayangan panjang di dinding kamar Absalom. Bayangan itu menjulur, meregang seperti kesombongan yang tak pernah puas. Ia adalah metafora dari ambisi yang membusuk—kilau di luar, lapuk di dalam.
Absalom merasakan nyeri samar di telapak tangannya. Penggaris yang tadi siang ia bawa pulang kini tergeletak di meja. Angka-angkanya seakan bergerak, naik turun seperti napas yang tidak stabil.
“Ambillah aku,” bisik Ba’al melalui benda itu. “Gunakan aku untuk mengukur orang lain. Ukur kesalahan mereka. Ukur kelemahan mereka. Bukankah kau ingin menjadi lebih dari sekadar pemuda desa?”
Kata-kata itu manis, manis seperti buah yang belum matang. Manis yang menyisakan getir.
Keesokan harinya, perubahan kecil terjadi. Absalom mulai memandang orang lain dengan ukuran yang kaku. Miriam berbicara sedikit lebih lambat, dan Absalom menghela napas panjang. Shaleh terlambat menyerahkan jahitan, dan Absalom menegurnya dengan nada formal yang dingin.
Moshe, tentu saja, tertawa. “Lihat? Aku bilang juga. Manusia harus tegas. Dunia ini tidak bisa diatur dengan kelembutan.”
Betapa mulianya Moshe merasa dirinya. Betapa agung ia menobatkan pikirannya sendiri.
Namun setiap kali Absalom menggenggam penggaris itu, rasa perih menyengat tangannya. Perih yang kecil, hampir tak berarti. Hanya garis merah tipis di kulitnya. Ia menganggapnya sekadar iritasi ringan—eufemisme untuk luka yang mulai menegur.
Malam demi malam, Ba’al semakin jelas.
“Aku iblis yang lebih tinggi dari manusia,” katanya dengan nada yang congkak. “Aku ingin melampaui mereka. Aku ingin mengatur mereka. Kau hanya alatku.”
Bayangan itu berdiri tegak, seperti menara yang ingin menembus langit. Namun menara itu retak. Retak oleh kesombongan.
Absalom mulai menyadari bahwa setiap kali ia mengikuti bisikan itu—setiap kali ia merendahkan orang lain, setiap kali ia merasa lebih benar dari segalanya—penggaris itu seakan menghukumnya.
Suatu malam, rasa sakit itu tidak lagi samar.
Ketika ia mengucapkan kalimat sinis kepada Miriam—kalimat yang menusuk seperti duri tersembunyi—penggaris di tangannya bergerak sendiri dan menghantam telapak tangannya.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Bunyi kayu mengenai kulit terdengar jelas di kamar sunyi itu. Rasa sakitnya tajam, spesifik, konkret. Seperti dihantam kenyataan yang tidak dapat dinegosiasikan.
Absalom terjatuh terduduk. Nafasnya terputus-putus.
“Berhenti,” ia berbisik.
“Tidak,” jawab Ba’al, suaranya seperti logam digesek. “Hukuman adalah milikku. Aku yang memberi perintah.”
Namun rasa sakit itu tidak berasal dari Ba’al.
Rasa sakit itu muncul setiap kali Absalom menuruti Ba’al.
Setiap kali.
Setiap kali.
Setiap kali.
Repetisi itu menjadi pelajaran yang tidak dapat diabaikan.
Shaleh memperhatikan perubahan pada Absalom. “Anak muda,” katanya dengan suara yang tenang, “ketegasan tanpa kebijaksanaan hanyalah kekerasan yang dibungkus aturan.”
Kalimat itu sederhana, namun berat. Litotes dalam kesederhanaannya menyembunyikan makna yang dalam.
Absalom akhirnya mengerti: penggaris itu bukan alat untuk mengukur orang lain. Ia adalah simbol. Ia adalah metafora dari standar yang dipaksakan tanpa kasih.
Ba’al muncul sekali lagi, lebih besar dari sebelumnya. Bayangannya menutupi seluruh dinding.
“Kutuk aku jika kau berani!” tantangnya dengan sarkasme yang menusuk. “Kau pikir manusia kecil sepertimu dapat mengalahkanku?”
Absalom berdiri, tangannya masih bergetar oleh rasa sakit. “Aku tidak perlu mengutukmu,” katanya dengan suara formal yang mantap. “Aku hanya perlu berhenti mendengarkanmu.”
Kalimat itu tidak keras. Tidak dramatis. Namun seperti garis lurus yang tidak dapat dibengkokkan.
Ba’al meraung. Bayangannya menyusut, memendek seperti kesombongan yang kehilangan panggung. Penggaris itu jatuh ke lantai dan terbelah dua.
Rasa sakit di tangan Absalom perlahan mereda.
Namun Ba’al tidak benar-benar hilang.
Kadang, dalam bisikan angin, terdengar suara yang sama. Kadang, dalam keraguan kecil, terasa sentuhan yang sama. Dunia tidak berubah menjadi suci dalam semalam. Desa itu tetap sederhana—nyaris tidak berarti dalam peta besar kehidupan.
Tetapi Absalom kini tahu.
Siapapun yang mengikuti kata iblis, siapapun yang membiarkan kesombongan mengatur langkahnya, akan merasakan hukuman—hukuman yang nyata, setajam kayu penggaris yang menghantam kulit.
Hidup berjalan terus.
Miriam kembali tersenyum.
Shaleh kembali menjahit.
Moshe masih berbicara seolah-olah dunia adalah muridnya.
Dan Ba’al?
Ia masih ada, mungkin. Di sudut-sudut yang tidak terlihat. Namun selama Absalom tidak lagi menggenggam bisikannya, penggaris itu tidak akan pernah lagi mengangkat dirinya.
Cerita itu tidak berakhir dengan kemenangan gemilang.
Ia berakhir dengan pilihan.
Pilihan untuk tidak mendengarkan.
Pilihan untuk tidak mengukur manusia dengan kesombongan.
Pilihan untuk menanggung konsekuensi jika memilih sebaliknya.
Karena hukuman itu sederhana.
Sederhana seperti penggaris kayu.
Sederhana, tetapi sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar