"Secara Kemampuan (Kompetensi): Mengetahui permukaan suatu bidang tidak sama dengan menguasainya. Anak DKV mungkin belajar dasar pemasaran (karena terkait branding), tapi mereka tidak punya kapasitas mendalam untuk analisis finansial makro seperti anak AKL (Akuntansi), atau manajemen arsip legal seperti anak MPLB (Manajemen Perkantoran)."
"Bahaya "Jack of All Trades, Master of None": Menuntut siswa SMK untuk bisa segalanya justru berbahaya. Jika terlalu melebar ke mana-mana, siswa malah berisiko tidak matang di kompetensi utamanya (misal: visual design, layout, atau ilustrasi). Di industri, perusahaan mencari orang yang spesialis dan ahli di bidangnya, bukan orang yang bisa membetulkan tenda sekaligus membuat kalkulator."
Bahaya sekali!
Mereka tidak sungkan mengatakan secara hiperbola, namun ini realita:
"Suntikan Motivasi yang Salah Sasaran: Guru sering kali menggunakan narasi "jurusan kita adalah yang terbaik" untuk menumbuhkan rasa percaya diri siswa agar tidak minder dengan jurusan lain. Sayangnya, pembawaannya malah jadi terkesan merendahkan jurusan lain."
"Tuntutan Kurikulum vs. Realitas: Di SMK, DKV memang sering bersinggungan dengan produk kreatif dan kewirausahaan (PKK). Dari sana, muncul persepsi bahwa anak DKV harus bisa jualan (pemasaran) dan bikin laporan (kantoran). Tapi menyamakan hal itu dengan "bisa menggantikan jurusan lain" adalah lompatan logika yang terlalu jauh."
Apa sebaiknya jika ini membuat buruk?
Saya bukan psikiater namun ini cara pasien:
- Fokus pada Core Skill: Jangan merasa terbebani untuk menguasai semua hal di luar desain hanya karena tuntutan verbal tersebut. Jadilah sangat mahir di bidang visual yang kamu minati.
- Gunakan sebagai "Pelengkap", Bukan Beban: Kalaupun kamu belajar sedikit tentang pemasaran atau komunikasi (Bahasa Inggris), lihat itu sebagai nilai tambah (plus value) untuk mendukung karya desainmu nanti, bukan untuk alih profesi menjadi akuntan atau sekretaris.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar